PLEASE DON’T GET MARRIED

“Apa ini?”

“Kau? Menikah? Tidak aku tidak setuju!”

“Jangan menikah, kumohon. Jangan menikah dengan orang lain selain noona.”


Jalanan di depanku masih terlalu padat. Sudah empat puluh lima menit aku terjebak disini dan belum beranjak satu senti pun. Ayolah tempat tujuanku hanya tinggal beberapa blok dari sini.

Kulirik jam tangan keemasan di tangan kiriku. Aku sudah terlambat lebih dari tiga puluh menit. Dan si bodoh itu pasti akan mengomeliku habis-habisan. Sampai selanjutnya memutuskan untuk meraih ponselku. Bermaksud mengiriminya pesan singkat tentang aku dan mobil yang tidak beranjak sedikitpun ini. Yang justru berakhir dengan sebuah panggilan masuk, dongsaeng kesayangan ku itu menelpon.

“Kau dimana, noona?”

“Masih di tempat yang sama seperti saat kau menghubungiku setengah jam yang lalu.” Sarkasku kembali. Salahkan saja kemacetan ini.

“Apa perlu aku menjemputmu?”

Dia memang adik terbaikku. Perhatiannya, satu lagi alasan yang bisa kutulis di buku catatanku ‘1001 alasan kenapa Jung Sooyeon HARUS jatuh hati pada Wu Yifan’. Benar sekali, aku menggarisbawahi kata harus. Karna menyukai Wu Yifan adalah keharusan.

“Tidak perlu. Tunggu aku lima belas menit lagi. Jika aku belum datang, kita ganti saja tempatnya.”

Helaan napasnya terdengar berat. “Baiklah. Aku akan menunggumu noona.”

Aku tersenyum lega, kemudian memutuskan panggilan ini tanpa bertukar kata perpisahan terlebih dahulu. Dia dan kesabarannya. Sepertinya aku memang harus menikahi lelaki ini.

Dan seolah memberiku restu atas obsesiku itu, jalanan mulai berjalan lancar. Memasukkan persnelling lalu menginjak pedal gas, Wu Yifan tunggu aku.

~~~

“Kenapa tiba-tiba mau menemuiku?”

Laki-laki ini tersenyum. Terlalu manis hingga aku yakin ferrero rocher tidak akan mampu menyamai kadar kemanisan senyum di wajahnya.

“Kau dan keterusteranganmu. Tidak maukah kau memesan sesuatu dulu noona?”

Aku tertawa. Dia memang sempurna hingga sarkasme yang keluar dari mulutnya terdengar bagai pujian di telingaku. “Bukannya kau juga tahu apa yang akan kupesan? Kenapa masih bertanya?”

Seringaian itu dia keluarkan, tentu sebagai jawaban dari apa yang baru saja kukatakan. Tangannya terayun, memberi tanda kepada seseorang bahwa meja ini akan memesan sesuatu.

“Tolong satu pina colada, dan satu black soda drink.”

Pelayan itu mengernyitkan dahinya. Sepertinya Yifan belum bisa memahami ini Seoul, bukan Vancouver.

Coke maksudnya. Pina colada dan coke.”

Sembari menuliskan pesanan kami, pelayan itu melemparkan senyuman terbaiknya. Berusaha menanyakannya kembali mungkin untuk memastikan pesanan kami. Walau caranya terlihat sedikit murahan. Sepertinya kau lupa Jung Sooyeon, kau sedang duduk dengan malaikat. Tentu semua gadis di kota ini akan berusaha menggodanya.

“Bisa kau berikan pesanan kami sekarang? Sepertinya gadis kesayanganku ini butuh minumannya untuk mendinginkan kepala?”

Pelayan itu menunduk malu. Kemudian berlalu begitu saja. Sungguh tidak sopan.

Thanks!” Ini pernyataan, karna aku tahu dia mengusir pelayan itu untuk menyindirku.

Yifan tertawa, renyah sekali. Hingga aku yakin mendengarkan tawanya ini akan lebih mampu menenangkanku daripada mendengarkan Something Stupid, lagu favoritku.

“Ayolah noona, aku hanya tidak mau ada pertumpahan darah di kafe ini.”

You suck, Wu Yifan!”

Masih belum berhenti tertawa. Cukup Wu Yifan, atau kau mau aku menarikmu dan membawamu pulang untuk kusimpan di sudut kamarku?

Stop it now Kris! Just tell me, kenapa kau memanggilku kesini?”

Ekspresi di wajahnya berubah. Kini menjadi lebih serius. Tangannya mendorong sesuatu ke arahku.

“Ini…”

“Apa ini?” potongku tak sabaran. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku tahu itu.

“Undangan.”

I know it’s an invitation, Kris. Just what’s the occation?”

“Pernikahanku. Aku akan menikah dua bulan lagi, noona.”

Deg. Apa-apaan ini? Dia tidak pernah melamarku dan mau langsung menikahiku? Ah tunggu, dia akan menikahiku? Tidak mungkin! Berhentilah bermimpi Jung Sooyeon.

“Kau bercanda kan?”

Aku bersumpah kalau ini adalah bagian dari leluconnya aku akan membunuh dia saat ini. Dan entahlah aku harus bersyukur atau tidak karna sikap diamnya menunjukkan ini bukan sekedar lelucon. Bersyukur karena aku tidak harus membunuhnya. Dan tidak untuk, tidak boleh ada yang menikahinya.

“Kau? Menikah? Tidak aku tidak setuju!”

Oh Tuhan, apa-apaan ini? Aku perlu belajar mengontrol emosiku.

“Tapi tunggu, aku tidak tahu kau punya pacar?”

Dia menyeringai, seolah sengaja mempermainkan ritme jantungku yang akan berantakan setiap kali dia mengekspresikan setiap bagian tubuhnya. Hentikan itu Yifan, kumohon.

“Memang tidak.” Jawabnya santai sekali.

Aku memilih diam. Puluhan pertanyaan sepertinya mulai berbaris rapi di kepalaku. Entah seperti siapa yang akan dia nikahi, kapan dia akan menikah, jika dia tidak punya kekasih lalu siapa calon istrinya, dan mungkin kenapa dia memilih undangan berwarna oranye dengan ornamen silver seperti ini. Tidak berkelas sama sekali.

“Mama menjodohkanku dengan putri kenalannya.”

Kuraih undangan yang tergeletak di hadapanku. Membukanya lalu memastikan sebuah nama yang benar-benar ingin kuketahui saat ini. Syukurlah undangan ini berbahasa inggris, setidaknya aku masih lebih mengerti daripada mandarin.

“Si-a-yu?”

“Xiao Yue noona. Gadis itu namanya Xiao Yue!”

Tepat saat itu pesanan kami datang. Yap, tepat saat aku akan melempar undangan ini ke wajahnya.

“Satu pina colada dan…”

“Bisakah kau taruh minuman itu segera, dan pergi dari sini? Aku baru saja akan memaki pria di hadapanku. Jadi kumohon pergi dari sini dan selamatkan nyawamu.”

Gertakanku sepertinya mampu membuat pelayan di hadapanku ini menciut. Terbukti dia lebih memilih menganggukkan kepalanya pasrah dan menyegerakan diri beranjak dari meja nomor 9 ini.

“Tunggu!” tahanku pada pelayan itu. “Aku minta tambahan air es. Pakai gelas terbesar yang kalian punya.”

Pelayan itu mengangguk, lalu berbalik meninggalkan kami.

Dan tentu saja, kulanjutkan hal yang hampir saja kulakukan tadi. Apa lagi selain melempar undangan kampungan ini. Meskipun kemudian aku menyesali sesuatu. If it’s about throwing thing, of course I suck at it. Dan tentu saja benda yang baru saja kulempar memilih terjun bebas di depanku.

“Kenapa Wu Yifan?”

Noona…”

“Aku yang menyukaimu, kenapa Xiah You ini yang menikahimu?”

“Xiao Yue, noona.”

“Aku mengejarmu dua tahun ini, dan Xia Yo yang tiba-tiba datang dan mendapatkanmu?”

It’s Xiao Yue noona.”

“Aku mengirimi pesan singkat setiap hari. Menelponmu saat tidak ada jadwal. Bahkan aku membolos latihan hanya karena kau diare. Tapi justru Xo Yu yang menjadi tunanganmu?”

Noona, namanya Xiao Yue.”

Mataku memanas. Sepertinya hanya perlu menunggu beberapa detik saja untuk mengumpulkan genangan di pelupuknya.

“Kenapa bukan aku, Kris? Kenapa harus Xiao Ye?”

Noona, namanya bukan…”

“AKU TIDAK PEDULI SIAPA NAMANYA KRIS!”

Brak.

Aku baru saja menggebrak meja di hadapanku keras. Membiarkan minuman pesanan kami yang bahkan belum tersentuh itu berguncang. Menumpahkan sebagian isinya. Dan bahkan aku tidak peduli meskipun pina colada favoritku harus kehabisan seluruh isinya. Ada yang lebih perlu dipedulikan, Wu Yifan.

Benar saja, selanjutnya air mata meluncur deras dari kedua mataku. Tidak peduli satu kafe ini melihat ke arah kami. Yang kuperlukan saat ini hanya Kris membatalkan pernikahannya.

Dan memilih untuk mengabaikan rasa maluku, aku beranjak dari tempatku. Memutuskan berlutut tepat di hadapannya. Biarkan saja, dua tahun ini aku sudah mengiba cintanya secara terhormat. Jika harus, aku akan menggunakan cara rendahan untuk mempertahankannya. Mencium kakinya bahkan akan kulakukan.

Noona, jangan seperti ini. Ayo berdirilah!”

Kris berusaha membantuku berdiri. Tapi aku justru menepis tangannya. Mungkin ini upaya terakhirku. Aku tidak akan membiarkan dia menghentikannya.

“Jangan menikah, kumohon. Jangan menikah dengan orang lain selain noona Wu Yifan.”

Masih berusaha membantuku, sembari matanya mengawasi sekitar. Mungkin dia mulai khawatir dengan tatapan-tatapan di sekeliling kami. Dan tentu saja aku memilih mengabaikan itu.

“Kumohon noona, orang-orang memperhatikan kita.”

“Aku tidak peduli. Sekarang aku hanya bisa berlutut dihadapanmu. Wu Yifan, batalkan pernikahanmu dan menikahlah dengan noona. Ah tidak, menikah denganku, Jung Sooyeon. Aku bersumpah tidak akan memperlakukanmu seperti seorang adik. Kau pria dewasa. You are a grown up man! I’ll treat you like one!

Aku tetap melanjutkannya meskipun pelayan tadi kembali dengan air es pesananku. Dan masih dengan seisi kafe menatap iba ke arah kami. Masa bodoh dengan itu.

“-kau boleh tidak memanggilku noona. Kau juga bisa melarangku memesan pina colada, asalkan kau berjanji padaku kau tidak akan menikahi orang lain selain aku. AYOLAH WU YIFAN KATAKAN KAU AKAN MELAKUKANNYA! KATAKAN PADAKU!”

Emosiku benar-benar tak terkontrol lagi. Kalau saja aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan sudi datang kesini.

Memilih bangkit tanpa bantuannya, aku tahu satu hal, dia menolakku. Sial sekali, Jung Sooyeon ditolak Wu Yifan mentah-mentah. Tanpa kata. Kuraih tas tanganku, dan tangan kananku berusaha mencapai minuman pesananku, menenggaknya habis dalam sekali teguk. Rekor baruku, meminum pina colada sekali teguk. Dan tentu itu tidak penting saat ini.

Selepas menaruh kembali gelas kosong itu, aku melanjutkan mengangkat tinggi gelas lain yang berisi air es, pesanan tambahanku. “Kau tahu, aku selalu ingin melakukan hal ini.”

Byur.

Aku menyiram air es itu ke arah Wu Yifan. Dan tentu saja sukses membuatnya terlihat menggenaskan dengan rambut klimis dan baju yang basah di bagian dada.

“Bersyukur saja aku terlalu menyukai pina colada. Dan aku tidak berani mengambil resiko dengan menyiram coke ke wajah tampanmu.”

Berusaha mengembalikan ketenanganku, kusematkan kacamata hitam. I am Jung Sooyeon, enough talking.

Tanpa menunggu reaksinya, aku memilih berlalu. Cukup drama yang kami sajikan disini. Terlalu banyak mata memandang akan membuat martabatku semakin jatuh.

“Kau tahu Kris, aku benar-benar menyukaimu, sampai di titik dimana aku baru saja kehilangan harga diriku. Sampaikan pesanku pada tunanganmu, selera undangannya mengerikan.”

Noona…” Dia berusaha menahanku. Dan tentu saja aku menepis genggamannya di lenganku. It’s too late Kris.

“Aku akan mengirimkan karangan bunga nanti. Sepertinya aku tidak bisa datang, berdoa saja kau tidak perlu mengirimkan karangan bunga untukku di hari yang sama. Membayangkan kau bersanding dengan wanita lain saja sudah membuatku ingin pergi ke apotik dan membeli sebotol obat tidur. Apalagi melihatnya langsung. Aku pergi.”

I am giving up on you, Kris. I am trying.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s