love has no pride

Casts : Jung Sooyeon dan Luhan

Summary : Love has no pride they said. Buktinya, Jung Sooyeon, perempuan dengan harga diri setinggi Namsan baru saja mengorbankan satu-satunya martabatnya itu, demi Luhan.

ps. I am so lazy to edit some pics, sorry. Jadi maaf ya gak ada covernya, dan maaf untuk grammar yang bikin pengen nonjok aku, hehehe.

************

“Cinta memang membingungkan. Di satu sisi kau merasa begitu benar tapi di sisi lain semuanya terlihat salah.”

************

“Apa yang kau lakukan?”

Sooyeon tersentak dengan pertanyaan itu. Bisa dikatakan bukan pertanyaannya yang membuatnya terlihat bodoh. Hanya jenis suara itu saja, jenis suara yang sama yang menjadi alasan kenapa jantungnya bekerja lebih cepat beberapa hari ini.

“Menurutmu?” nada ketus itu terdengar sempurna. Mencoba menutupi kegugupannya.

Laki-laki di hadapannya berusaha mengulum senyumnya. Inilah hal favorit Luhan, melihat sahabatnya, Sooyeon, murka. Santai, dia meraih kursi di depan Sooyeon. Menggesernya tepat di samping Sooyeon.

Gadis itu mendengus. Mencoba mengabaikan tingkah pria disampingnya, dia lebih memilih menyesap sebentar kopi di hadapannya. Lalu kembali memfokuskan pandangannya. Semenarik apapun Luhan, setidaknya deadline thesis nya lebih memerlukan perhatiannya.

“HEI!” Sekali lagi Sooyeon tersentak. Dia baru selesai menulis satu kata saja, hukum, dan pria ini kembali mengganggunya.

“Sejak kapan kau suka espresso? Dan ini, dengan extra shots?”

Sooyeon kembali melepaskan pandangannya dari komputer lipatnya. Lalu memicingkan matanya berusaha mengintimidasi pria dengan cangkir yang masih terayun di udara. Luhan menganggunya hanya karna ini?

“Bukan urusanmu!”

“Ah, noona! Berhentilah bersikap ketus padaku. Apa ini kesukaan orang yang kau sukai? Benar kata orang, loving someone means you love everything they do.”

“Tau darimana kau tentang aku menyukai seseorang?”

Ujung bibir Luhan kembali tertarik ke atas. “Jung Sooyeon, kau pikir sudah berapa lama kita saling mengenal?”

“Semenjak Im Yoona mengenalkanmu padaku. Satu tahun dua bulan dan lima belas hari yang lalu.”

“Wow. Kau menghitungnya?”

Sooyeon memaksakan diri menahan tawanya. Satu hal yang dia bisa banggakan. Menjadi penulis membuat ingatannya sangat tajam. Termasuk mengingat hari pertama mereka bertemu. Hari dimana jantungnya yang dingin, mendadak dipaksa untuk berpacu lebih cepat.

“Siapa dia?”

Unimportant person. You dont have to know, Han.”

“Ayolah! Jangan membuatku penasaran Sooyeon noona.”

Sooyeon kemudian memilih menutup komputer lipatnya. Lagipula thesisnya belum beranjak dari angka 87,000 words semenjak kedatangan Luhan. “Dia seseorang yang kau kenal, Han.”

Mata Luhan membulat. Bingo. Seperti dugaannya. “Lalu, kenapa tidak memberitahunya?”

“Haruskah?” Kembali Sooyeon membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Tapi Luhan seperti mengiyakan, dia memilih menganggukkan kepalanya penuh semangat.

“Ayolah, mungkin ini kesempatan satu-satunya yang kau punya.”

Like I care.” Dia meraih cheesestick yang sedari tadi dia abaikan.

“Jung Sooyeon, ayolah. Sejak kapan kau jadi pengecut seperti ini?”

Hati Sooyeon mencelos. “Pengecut? Aku tidak mau melakukannya bukan berarti aku takut, Han.”

“Lalu kenapa kau tidak mau melakukannya?”

Kali ini Sooyeon tak bisa menyembunyikan tawanya. “Karna itu akan melukainya, dan orang di sekitarku.”

“Kenapa seperti itu?” Luhan mulai terlihat serius. Dia berharap dia bisa membantu Sooyeon dengan self esthem problem yang dimilikinya.

“Karna aku begitu menyukainya. Jika aku bilang padanya kalau aku menyukainya, dan seandainya, aku bilang seandainya, dia juga menyukaiku aku akan melukai sahabatku, juga persahabatan kami. Dan jika aku tetap menyatakan perasaanku, tidak peduli apapun jawabannya, aku akan melukai harga diriku.”

Dia menutup ucapannya dengan tawa. Namun ada yang berbeda, kali ini terasa lebih berat.

“Jung Sooyeon, tidak akan seperti itu. Believe in yourself.”

Sooyeon menghentikan tawanya. Luhan benar-benar belum menangkap maksudnya. “Kau masih belum mengerti?”

I fall for my bestfriend’s boyfriend, Han.”

Tidak ada suara setelah penegasan Sooyeon ini. Bahkan mungkin tidak ada yang berani untuk menghembuskan napas yang menyesaki dada mereka.

“Dan itu akan menghancurkan persahabatanku, dan harga diriku.” Tambahnya setengah berbisik. Namun jarak mereka yang cukup dekat, membuat Luhan bisa mendengarnya dengan jelas.

Sekali lagi hening. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Luhan berusaha mencerna maksud ucapan noona kesayangannya itu.

Tik. Tok. Tik. Tok.

Suasana ini benar-benar canggung. Sooyeon memilih kembali membuka komputer lipatnya. Mungkin satu-satunya yang bisa jadi jalan keluar keheningan ini.

“Aku tidak tahu kalau kekasih Minseok itu temanmu, noona.”

Sooyeon terhenyak dengan satu kalimat itu. Oh God, Luhan is an innocent boy, tapi Sooyeon tak pernah berpikir dia akan senaif ini.

C’mon Han, don’t be naive. I fall for Yoona’s boyfriend. I fall for you Han!

Tidak, bukan seperti ini akhir yang diinginkan Luhan. Dia benar-benar tak tahu kalau pada akhirnya laki-laki yang dicarinya justru dirinya sendiri.

Noona…”

Sooyeon menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia tahu maksud panggilan dengan nada penuh rasa bersalah itu. Dia tidak senaif Luhan. “Dan sepertinya aku baru saja melukai harga diriku.”

Mencoba mengabaikan rasa sakitnya, Sooyeon berpikir mengusir Luhan akan sedikit lebih baik untuk dirinya saat ini. “Sudahlah, pergi dan jemput kekasihmu. Ini sudah waktunya dia menyelesaikan kursusnya bukan?”

Luhan belum bergeming. Dia masih terlalu takut dengan kenyataan yang baru saja didengarnya. Sooyeon menyukainya.

“Jawab aku Luhan, dengan diam seperti ini kau benar-benar melukai harga diriku.”

“Maaf…” Bodoh. Dari ribuan kata yang ada di dunia ini justru kata itu yang keluar dari mulut Luhan. Kata yang tentu saja tidak mau didengar Sooyeon saat ini.

Sooyeon mendorong bahu Luhan cukup keras. Dia berpikir ini satu-satunya upaya yang bisa dia lakukan untuk menyadarkan pria ini. Luhan benar-benar membutuhkan sebuah tamparan untuk mengembalikan otaknya berpikir jernih.

Stop it Han! Kau sudah melukai harga diriku, you just did. Jangan lukai sahabatku juga. Ambil kuncimu, dan jemput Yoona sekarang.”

Luhan mendongakkan kepalanya. Dan untuk pertama kalinya hari ini dia melihat senyuman tertulus yang Sooyeon tunjukkan padanya. Dan dia tahu, Sooyeon baik-baik saja. Yang perlu dia lakukan hanyalah berhenti mengkhawatirkan Sooyeon, his Sooyeon noona. Karena itu pasti akan melukai harga dirinya lebih dalam.

“Aku mengerti. Aku berangkat sekarang.” Luhan bangkit dari tempatnya. Menatap Sooyeon untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi. “Dan noona, jangan minum espresso. Eventhough I love it, it just doesn’t suit you. Jaga dirimu.”

Pandangan Sooyeon satu-satunya yang mengantarkan kepergian Luhan dari pizzeria kecil ini. Senyuman sarkas itu kembali meluncur di wajahnya. “Yeah, espresso does not suit me. Just like I don’t suit you, aight?”

Dan seperti itulah cinta bekerja. There is no wrong or right choice. Seperti yang kita tahu, love has no logic. Akhir bahagia atau menyedihkan, setidaknya Sooyeon lebih memilih menertawainya. She just hurt her own pride, apa lagi yang lebih menyedihkan.

************

OH MY GOD WHAT I JUST WROTE!!!!
Maaf banget udah lama gak nulis (selain skripsi) jadi tulisan aku ganggu banget. Oh iya, semua fic akan pake cast jessica sama krystal. Sorry not sorry!
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s